YOGYAKARTA – Suasana kebersamaan dan kehangatan menyelimuti Fakultas Science, Engineering and Technology (FSET) Universitas Alma Ata ketika menggelar acara buka puasa bersama keluarga besar fakultas. Kegiatan yang berlangsung di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dihadiri oleh seluruh elemen civitas akademika, mulai dari jajaran pimpinan fakultas, para dosen, tenaga kependidikan, hingga perwakilan mahasiswa dari berbagai angkatan dan organisasi kemahasiswaan. Acara ini dirancang tidak hanya sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi lebih dari itu, menjadi momentum strategis untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun suasana kebersamaan yang hangat di luar rutinitas akademik formal. Kehadiran seluruh komponen fakultas dalam satu forum informal ini menciptakan dinamika tersendiri, di mana sekat-sekat hierarki antara pimpinan, pengajar, dan mahasiswa seolah melebur dalam semangat kekeluargaan yang menjadi ciri khas lingkungan pendidikan yang sehat dan kondusif.
Dekan Faculty of Science, Engineering and Technology Universitas Alma Ata, Dr. Dadang Heksaputra, S.Kom., M.Kom, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan buka bersama memiliki makna yang sangat fundamental dalam memperkuat hubungan kekeluargaan di lingkungan fakultas yang dipimpinnya. Menurutnya, interaksi yang terjalin selama ini di ruang-ruang kelas, laboratorium, atau ruang rapat cenderung bersifat formal dan terstruktur, sehingga terkadang kurang memberikan ruang bagi terbangunnya kedekatan personal antar individu. “Tujuan utama dari kegiatan buka bersama ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi di antara seluruh keluarga besar Fakultas FSET, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa. Di bulan yang penuh berkah ini, kami ingin menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di luar agenda formal perkuliahan dan pekerjaan,” ujar Dadang dengan penuh antusias. Ia menambahkan bahwa momen Ramadhan yang identik dengan pengampunan dan kebersamaan ini menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan memperkuat rasa persaudaraan sebagai bagian dari satu keluarga besar FSET, sehingga ke depannya tercipta ikatan emosional yang lebih kuat di antara seluruh civitas akademika.
Lebih jauh, Dadang menjelaskan bahwa dunia akademik idealnya tidak hanya berkutat pada proses transfer ilmu pengetahuan semata, tetapi juga mencakup pembangunan karakter dan hubungan sosial yang sehat di lingkungan kampus. Dalam pandangannya, kegiatan informal seperti buka bersama memiliki peran krusial dalam mencairkan suasana formal yang selama ini mungkin menjadi penghalang terciptanya komunikasi yang lebih terbuka dan humanis. “Kegiatan seperti ini sangat penting karena dunia akademik tidak hanya tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang pembangunan karakter dan hubungan sosial. Buka bersama menjadi ruang untuk mencairkan suasana formal, menghilangkan sekat-sekat hierarki, dan membangun rasa memiliki terhadap fakultas,” tegasnya. Menurutnya, ketika hubungan personal antar anggota civitas akademika terbangun dengan baik melalui interaksi-interaksi informal semacam ini, maka secara otomatis akan tercipta suasana akademik yang lebih kondusif dan kolaboratif, di mana dosen dan mahasiswa dapat bekerja sama dengan lebih efektif dalam berbagai kegiatan tridharma perguruan tinggi.
Keterlibatan seluruh elemen fakultas dalam penyelenggaraan acara ini menjadi bukti nyata dari semangat kebersamaan yang ingin dibangun. Panitia pelaksana kegiatan merupakan hasil kolaborasi antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang bekerja bahu-membahu merencanakan dan menyukseskan acara tersebut. Mulai dari persiapan konsumsi, dekorasi tempat, hingga rangkaian acara berbuka dan shalat maghrib berjamaah, semuanya dikerjakan bersama dengan penuh keikhlasan dan kegembiraan. “Ini benar-benar representasi dari kebersamaan kita semua. Seluruh elemen di Fakultas FSET terlibat, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dari berbagai angkatan dan himpunan mahasiswa. Kolaborasi lintas unsur ini menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial belaka, tetapi menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan seluruh komponen fakultas dalam ikatan persaudaraan yang tulus,” jelas Dadang dengan nada bangga. Ia berharap semangat kolaborasi yang terlihat dalam kepanitiaan ini dapat menjadi model bagi kegiatan-kegiatan fakultas lainnya di masa mendatang.
Dalam perspektif yang lebih luas, Dadang memandang bulan Ramadhan sebagai momentum refleksi yang sangat berharga bagi lingkungan akademik. Nilai-nilai luhur yang diajarkan selama bulan suci ini, menurutnya, memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan akademik yang menjunjung tinggi kedisiplinan, integritas, dan kepedulian sosial. “Ramadhan mengajarkan kita tentang disiplin melalui waktu sahur dan berbuka yang harus tepat, pengendalian diri dengan menahan hawa nafsu, serta empati terhadap sesama melalui rasa lapar yang dirasakan. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan dunia akademik yang menuntut kedisiplinan dalam belajar dan mengajar, integritas dalam penelitian, serta kepedulian sosial dalam pengabdian kepada masyarakat,” paparnya. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh civitas akademika FSET untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana introspeksi diri sekaligus momentum untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial, sehingga setelah Ramadhan berakhir, mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan berkontribusi lebih positif bagi kemajuan fakultas.
Kegiatan bersama seperti buka puasa, tadarus Al-Qur’an, atau kajian singkat keislaman yang dilakukan secara kolektif di lingkungan kampus, menurut Dadang, secara alami akan mendorong terjalinnya interaksi yang lebih cair dan humanis di antara seluruh anggota civitas akademika. Semangat berbagi yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan, seperti melalui kegiatan berbagi takjil atau buka puasa bersama, juga dapat memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial di lingkungan fakultas. “Dalam acara seperti ini, kita bisa duduk bersama, berbincang dari hati ke hati, dan menikmati hidangan tanpa tekanan formalitas. Interaksi informal seperti inilah yang menjadi perekat hubungan kekeluargaan di antara kita. Ketika kita sudah merasa sebagai keluarga, maka segala perbedaan pendapat atau kepentingan dapat diselesaikan dengan lebih mudah dan bijaksana,” ujarnya. Ia mencontohkan bagaimana dalam suasana santai menunggu waktu berbuka, diskusi-diskusi ringan namun bermakna sering terjadi, mulai dari obrolan tentang perkuliahan, penelitian, hingga problematika kehidupan kampus yang dialami mahasiswa.
Lebih dari sekadar ajang silaturahmi, kegiatan buka bersama ini juga terbukti menjadi saluran komunikasi informal yang efektif antara pimpinan fakultas dengan mahasiswa maupun dosen. Dalam suasana yang santai dan penuh kekeluargaan, berbagai aspirasi, ide kreatif, atau bahkan keluh kesah dapat disampaikan dengan lebih terbuka tanpa merasa canggung atau segan. “Komunikasi formal sudah sering terjadi di ruang rapat atau kelas. Namun komunikasi informal di meja makan atau sambil menunggu waktu berbuka memiliki keistimewaan tersendiri. Aspirasi, ide, atau keluh kesah bisa disampaikan secara lebih santai dan mengalir apa adanya. Inilah kesempatan bagi kami sebagai pimpinan untuk mendengar langsung dari mahasiswa dan dosen tentang apa yang mereka butuhkan dan harapkan dari fakultas,” jelas Dadang. Ia meyakini bahwa forum-forum informal semacam ini dapat menjadi pelengkap yang sangat berharga bagi mekanisme komunikasi formal yang sudah ada, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil pimpinan fakultas ke depannya dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan seluruh stakeholder.
Ke depannya, Dadang memiliki harapan besar agar Fakultas FSET Universitas Alma Ata tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan penelitian, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam membangun budaya akademik yang positif, inklusif, dan kolaboratif. Menurutnya, budaya akademik yang sehat tidak hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau prestasi akademik semata, tetapi juga dari bagaimana seluruh anggota civitas akademika saling menghargai, bekerja sama, dan mendukung satu sama lain dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri. “Harapan saya, Fakultas FSET tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan penelitian, tetapi juga menjadi pelopor dalam membangun budaya akademik yang inklusif, saling menghargai, dan kolaboratif. Nilai-nilai kebersamaan yang tumbuh selama Ramadhan, seperti empati, keikhlasan, dan kerja sama, harus terus kita rawat dan jadikan sebagai bagian dari budaya sehari-hari di lingkungan fakultas, tidak hanya di bulan Ramadhan saja,” tegasnya. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk bersama-sama mewujudkan visi tersebut melalui konsistensi dalam berperilaku positif dan saling mendukung dalam setiap kegiatan.
Mengakhiri sambutannya, Dekan FSET memberikan pesan khusus kepada mahasiswa agar memanfaatkan momentum Ramadhan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas diri secara holistik. Ia berharap ibadah puasa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual semata, tetapi juga sebagai sarana latihan spiritual dan mental yang sangat bermanfaat bagi proses pendidikan mereka. “Kepada mahasiswa FSET, manfaatkan momentum Ramadhan ini untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi spiritual, akademik, maupun soft skill. Jadikan ibadah puasa sebagai latihan untuk menjadi pribadi yang lebih fokus, sabar, dan tekun dalam menuntut ilmu. Disiplin yang kita latih selama Ramadhan, seperti bangun sahur dan mengatur waktu, akan sangat berguna ketika kalian harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah, skripsi, atau bahkan nanti ketika bekerja di masyarakat,” pungkasnya dengan penuh harap. Kegiatan buka bersama yang diakhiri dengan shalat maghrib berjamaah ini pun ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan bagi seluruh keluarga besar FSET Universitas Alma Ata, serta kekuatan untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
